Sejarah Desa

Asal – usul desa Jetak diceritakan dari berbagai sumber :

Desa Jetak kecamatan Wedarijaksa, Pati selalu di kaitkan dengan seorang perempuan yang di yakini sebagai cikal bakal desa Jetak yaitu Mbah Sri Sumari atau Mbah Sumari atau Siti Sumari atau Mbah Mari. Mbah Mari saat ini dimakamkan di tengah-tengah pemukiman desa Jetak, tepatnya di Punden Desa RT 03 RW 02 yang satu komplek dengan mushola Al-Barokah & Paud Mutiara Bangsa.

Asal Usul Desa Jetak

Desa JETAK berasal dari akronim/kerata basa/singkatan Jejeri Watak atau Jejeki Watak , yang berarti berpegang teguh pada keyakinan atau idealis terhadap kata hati, itu dikarenakan Mbah Mari yang turunan darah biru memilih mengembara sesuai dengan jiwanya untuk menyebarkan agama. Beliau tidak mau hidup sebagai abdi dalem Kadipaten Tuban seperti ayahnya yang berpangkatkan Kanjeng Raden Tumenggung atau biasa dipanggil Tumenggung suatu jabatan ekskutif jaman dahulu dibawah pangkat Patih

.

Perjalanan Raden Ayu Dewi Sri Sumari

 

Menurut beberapa sumber, Mbah Mari berasal dari Tuban Jawa Timur, beliau adalah putri seorang Tumenggung yang masih berkaitan dengan berandal Loka Jaya / Raden Sahid. Alkisah saat masa mudanya Raden Sahid yang terkenal sebagai perampok ulung dengan tujuan hasil rampokannya di berikan pada fakir miskin. Saat itu Raden Sahid & keluarganya sudah beragama islam. Saat merampok di daerah Bojonegoro Raden Sahid di tangkap oleh sang Tumenggung ayah Raden Ayu Dewi Sumari, setelah terjadi pertempuran sengit akhirnya Raden Sahid terluka dan bisa di tangkap oleh sang Tumenggung. Sang Tumenggung sangat kaget saat membuka topeng sang perampok karena ternyata perampok sakti itu adalah Raden Sahid putra Adipati Arya Tejo Tuban.

Dalam keadaan terluka Brandal Loka Jaya di bawa pulang ke rumah sang Tumenggung untuk diobati lukanya dengan harapan jika sembuh akan segera di bawa ke Kadipaten sebagai bahan laporan kepada Sang Adipati Tuban bahwa sang Tumenggung sudah berhasil menangkap perampok itu. Dirumah Sang Tumenggung setiap hari Sang Raden Syahid diobati oleh keluarga Sang Tumenggung termasuk Dewi Sumari juga ikut mengobati luka Raden Syahid.

Berawal  dari pertemuan itulah tumbuh benih – benih cinta Dewi Sumari kepada Raden Syahid.Raden Syahid sebagai perampok yang hanya memikirkan rakyat kecil tidak pernah berfikir sejauh itu bahwa Dewi Sumari jatuh hati kepadanya. Saat Dewi Sumari menyatakan cintanya pada Raden Syahid, Raden Syahid bilang bahwa beliau  belum bisa menjawab dan belum berfikir masalah cinta beliau hanya berfikir tentang penderitaan kawula alit. Meski tidak ada jawaban pasti dari Raden Syahid Dewi Sumari tetap melayani dan mengobatinya dengan penuh keikhlasan hingga suatu hari terdengar kabar bahwa Raden Syahid akan dibawa ke Kadipaten oleh ayahnya.

Hari yang ditentukan untuk membawa Raden Syahid sudah tiba maka segeralah disiapkan pasukan Sang Tumenggung untuk  mengawal sang Perampok ulung dengan pengawalan yang ekstra ketat. Di satu pihak Dewi Sumari tidak rela jika Raden dibawa ke Kadipaten Tuban sebagai pesakitan. Maka bersama dua pengawal setianya Ki Kadut dan Ki Krapyak sang putri punya rencana lain.

 

Perang Tanding Memperebutkan Lokajaya

 

Di tengah perjalanan menuju Tuban ,dengan sangat tidak terduga Pasukan Tumenggung dihadang oleh sekawanan perampok yang bertopeng,anehnya perampok itu tidak meminta harta benda namun hanya meminta Raden Lokajaya supaya dilepaskan untuk tidak dibawa ke Kadipaten.Hal ini tentu saja tidak bisa dikabulkan oleh Tumenggung sehingga akhirnya tidak bisa dihindarkan terjadilah pertempuran sengit antara para perampok bertopeng yang dipimpin Dewi Sumari dengan Pasukan Tumenggung.

Dalam benak Sang Dewi tidak ingin memenangkan peperangan bahkan Sang Dewi sudah mewanti – wanti anak buahnya untuk tidak melukai siapapun,dan jika dihitung secara matang maka fihak perampok jelas akan kalah jika peperangan dilanjutkan.Bagi Sang Dewi yang penting bukan memenangkan pertempuran namun bagamana caranya supaya Raden Lokajaya bisa direbut dari tangan Pasukan Tumenggung.

Akhirnya ,dengan bersusah payah Raden Syahid bisa direbut dan dibawa lari kearah barat.Setelah berhasil membawa lari Raden Syahid mereka beristirahat ketika dirasa situasi sudah aman.Saat istrihat itulah sang Dewi membuka topengnya dan barulah tahu Raden Syahid siapa gerangan jati diri orang yang menolongnya itu.Ringkas cerita,dengan hati berat Sang Dewi mengutarakan niatnya untuk’’ngenger’’mengabdi kepada Raden Lokajaya.

Dalam keadaan yang tak menentu Sang Lokajaya dengan berat hati akhirnya  menolak dengan halus bahwa beliau belum memikirkan masalah wanita tetapi beliau masih memikirkan kemakmuran rakyat jelata.Sang Dewipun menjawab sanggup membantu Lokajaya membantu orang – orang miskin meski dengan jalan merampok orang – orang kaya yang kikir dan sombong.

Raden Lokajaya benar-benar dalam situasi dilematis untuk memberikan jawaban dari permohonan orang yang telah menolongnya.Akhirnya beliau minta kepada Sumari untuk memberi waktu berfikir kepada Lokajaya karena Lokajaya tidak mau bertindak gegabah namun harus dengan pemikiran yang matang menjawab masalah itu .Lokajaya hanya memberi toleransi pada Sumari yang sudah terlanjur lari dari Ka’’Tumenggung’’an untuk berjalan kearah barat sambil membantu fakir miskin.

Lokajaya Ke Sinoman Hingga Kali Tuntang Sumari Ke Jetak

 

          Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan pada Dewi Sumari maka Raden Syahid berjalan ke arah Barat sambil menghindari Pasukan Tumenggung.Dalam perjalanan ke arah barat Raden Lokajaya banyak melakukan perampokan untuk membantu fakir miskin dan rakyat jelata .Beliau singgah di beberapa tempat diantaranya di Sinoman Pati yang sampai sekarang masih ada tempat petilasannya hingga akhirnya perjalanan rampok kondang Raden Lokajaya alias Syahid berakhir di Kali Tuntang Grobogan  karena dihentikan oleh Sunan Bonang dan akhirnya beliau bertapa di pinggir Kali Tuntang atas perintah Sunan Bonang.

Di satu sisi Sumari sebagai pendekar yang berdarah biru dan berjiwa ksatria merasa malu untuk kembali ke ndalem katemenggungan ,akhirnya dengan dikawal dua orang pengikut setianya beliau berjalan ke arah barat hingga akhirnya sampai ke desa Jetak.Seperti Brandal Lokajaya Sumari disepanjang jalan memberikan bantuan kepada Rkyat jelata dan fakir miskin.Di desa Jetak inilah beliau babad alas membuka lahan untuk pemukiman hingga akhirnya terbentuklah desa yang ramai seperti sekarang ini.

Watak dan ciri khas Mbah Sumari yang suka menolong pada sesama ini menitis pada rakyat Jetak secara umum, satu conto jika di Desa Jetak ada warga yang kena musibah mungkin ada yang sakit dirumah sakit maka dengan segera para tetangga  berbondong – bondong memakai motor atau mengadakan rombongan dengan mencarter mobil bak terbuka atau tertutup besuk ke rumah sakit  ,satu contoh lagi adalah pembuatan masjid yang menelan biaya kurang lebih 2 milyar itu tidak biayanya swadana penduduk Desa Jetak dan tidak meminta fihak luar baik Pemerintah maupun non Goverment,kekompakan seperti ini jarang ditemukan di desa lain.

Kesimpulan Penulis :                                                                                     

 

          Demikianlah cerita asal usul Desa Jetak yang dapat kami sajikan dari hasil wa   wancara dengan beberapa Kyai dan tokoh spiritual ,penulis menyadari sepenuhnya bahwa banyak kekurangan dari penyajian cerita tersebut karena tidak adanya data tertulis mengenai hal tersebut ,satu – satunya bukti yang ada adalah makam Mbah Sumari yang berada di Desa Jetak,selanjutnya saya mohon masukan, saran dan kritik dari pembaca yang budiman demi lebih baiknya tulisan ini , penulis hanya dapat mengambil kesimpulan tentang cerita tersebut bahwa :

  1. Mbah Sumari adalah Muslimah dibuktikan dengan makamnya yang menghadap kiblat.
  2. Mbah Sumari bukan penduduk asli Jetak namun pendatang dari daerah Jawa Timur sesuai penuturan dari banyak sumber.
  3. Mbah Sumari termasuk cikal bakal yang membuka lahan mati di Desa Jetak menjadi lahan hidup sehingga menjadi pemukiman.
  4. Mbah Sumari adalah keturunan darah biru ini ditandai dengan adanya dua prajurit pengawal beliau dimana yang memiliki pengawal saat itu bisa dipastikan seorang darah biru atau bisa jadi seorang tokoh.

Mohon maaf segala kekurangan dan kekhilafan,..

 

By : KH. Janur Kuning

Sholihul Hadi, S.Pd.I